
Hakikat Terjaga
Kamu bisa membuka mata sejak pagi, menjalankan pekerjaan, berbicara dengan banyak orang, dan menyelesaikan berbagai urusan. Namun, apakah itu berarti kamu benar-benar terjaga?
Perhatikan bagaimana kamu menjalani hari. Seseorang berkata sesuatu, lalu kamu tersinggung. Sebuah kejadian muncul, lalu pikiranmu segera menghakimi. Kamu mengulang kebiasaan yang sama, memberikan reaksi yang sama, bahkan mengalami penderitaan yang sama, tanpa pernah sungguh-sungguh melihat apa yang sedang terjadi di dalam dirimu.
Tubuhmu terjaga, tetapi batinmu bergerak seperti mesin yang mengikuti pola lama.
Mari kita memperhatikan gerak pikiran, perasaan, dan reaksi tanpa buru-buru menghakimi atau mengubahnya. Bukan dengan memaksa diri menjadi tenang, melainkan dengan melihat apa yang benar-benar sedang berlangsung.
Ketika marah muncul, sadari kemarahan itu. Ketika kecemburuan hadir, lihat bagaimana pikiran membentuk ketakutan dan cerita tentang kehilangan. Jangan langsung membenarkan, jangan pula menyangkal. Lihatlah dengan jernih.
Perhatian semacam ini bukanlah tidur biologis, bukan pula keadaan khusus yang harus kamu capai. Ia adalah kemungkinan untuk tidak terus-menerus hidup secara otomatis.
Terjaga bukan sekadar membuka mata. Terjaga adalah ketika kamu mulai melihat apa yang selama ini menggerakkan hidupmu tanpa kamu sadari.
Malam nanti, biarkan tubuhmu tidur. Namun, selama menjalani kehidupan, jangan biarkan seluruh hidupmu berlalu dalam ketidaksadaran.


