
Siklus Mentalitas Manusia
Kita, manusia, mengalami perjalanan kehidupan yang menarik. Dimulai sebagai bayi yang sepenuhnya bergantung kepada orang lain. Kemudian menjadi anak-anak yang polos, penuh rasa ingin tahu, dan ingin menjelajahi dunia. Beranjak dewasa, mulai belajar bertanggung jawab dan mandiri. Lalu memasuki usia tua, ketika sebagian orang justru kembali menunjukkan sifat kekanak-kanakan. Hingga akhirnya, pada usia renta, manusia kembali membutuhkan bantuan orang lain, sebagaimana ketika ia masih bayi.
Tetapi ada satu hal yang menarik untuk direnungkan: apakah kedewasaan mental selalu berjalan seiring dengan pertambahan usia?
Lihatlah dirimu sendiri. Ketika keinginanmu tidak terpenuhi, apakah kamu bisa menerimanya, atau justru merajuk? Ketika seseorang tidak memberikan perhatian, apakah kamu tetap utuh, atau merasa tidak dihargai? Ketika pendapatmu tidak diterima, apakah kamu bisa menghormati perbedaan, atau sibuk menuntut orang lain mengerti dirimu?
Jangan-jangan, secara usia kamu sudah menjadi bapak-bapak atau emak-emak, tetapi secara mental masih membutuhkan perhatian seperti anak kecil. Anak-anak selalu mencari ruang untuk eksis. Anak kecil ketika tidak diperhatikan eksis dengan menangis, dan itu indah.. Sementara kamu tidak bisa menangis lagi seperti anak kecil, dan cara orang dewasa caper itu jelek..
Menjadi dewasa bukan berarti kehilangan kepolosan dan kegembiraan seorang anak. Justru kamu bisa tetap bermain, tertawa, dan menikmati kehidupan, tanpa membebankan tanggung jawab atas kebahagiaanmu kepada orang lain.
Usia boleh bertambah, tetapi kedewasaan tidak otomatis ikut tumbuh. Jadi, di manakah kamu sekarang dalam siklus kehidupanmu? Sudahkah kamu dewasa, atau hanya bertambah tua dengan kebutuhan emosional seorang anak kecil?


