
Apakah Semua Pikiran Harus Dipercaya?
Pernahkah kamu menyadari bahwa tidak semua yang kamu pikirkan adalah kenyataan?
Pikiran bisa mengatakan bahwa seseorang tidak menyukaimu. Pikiran bisa meramalkan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi. Pikiran juga bisa mengulang kesalahan masa lalu, lalu membuatmu merasa tidak berharga karenanya.
Anehnya, begitu pikiran itu muncul, kamu sering langsung mempercayainya. Kamu menganggapnya sebagai kebenaran, lalu bereaksi berdasarkan sesuatu yang bahkan belum tentu terjadi.
Padahal, pikiran hanyalah aktivitas batin. Ia bisa lahir dari ingatan, ketakutan, pengalaman masa lalu, atau kebiasaan menafsirkan sesuatu. Tidak semua yang dikatakannya sesuai dengan kenyataan saat ini.
Lalu, apakah kamu harus melawan pikiranmu? Tidak juga. Melawan pikiran bisa membuatmu semakin terikat kepadanya. Kamu justru bisa belajar melihatnya tanpa harus langsung menyetujui atau menolaknya.
Ketika pikiran berkata, “Aku tidak cukup baik,” cobalah berhenti sejenak. Sadari bahwa ada pikiran yang sedang mengatakan itu. Kamu tidak harus menjadikannya sebagai identitasmu.
Pikiran boleh muncul, tetapi kamu tidak harus mempercayai setiap perkataannya.Belajarlah membedakan antara apa yang benar-benar sedang terjadi dan apa yang hanya diceritakan oleh pikiranmu tentang kejadian itu.
Sebab, terkadang yang membuatmu menderita bukanlah kenyataan yang sedang kamu hadapi, melainkan cerita di dalam kepala yang kamu percayai.


