
Pola Relasi Manusia Umumnya : Saat Jadi Kupu-Kupu Kau Kejar, Saat Jadi Ulat Kau Tinggalkan
Pernahkah kamu memperhatikan? Saat seekor ulat merayap di daun, hampir tidak ada yang peduli. Bahkan banyak yang merasa jijik dan menjauh.
Namun ketika ulat itu berubah menjadi kupu-kupu yang indah, orang-orang mengejarnya. Mengaguminya. Memotretnya. Ingin dekat dengannya.
Begitulah pola relasi yang sering terjadi di masyarakat. Ketika seseorang sedang berjuang, belum berhasil, belum terkenal, belum memiliki apa-apa, ia sering diabaikan.
Namun ketika ia sudah “menjadi kupu-kupu”, sukses, cantik, kaya, berpengaruh, tiba-tiba banyak orang ingin mendekat.
Relasi semacam ini dibangun di atas nilai dan keuntungan, bukan di atas cinta dan respek terhadap kehidupan. Maka jangan terlalu sedih ketika dirimu ditinggalkan saat menjadi ulat.
Dan jangan terlalu bangga ketika dikejar saat menjadi kupu-kupu. Karena keduanya sering kali tidak berbicara tentang manusiawimu. Mereka hanya berbicara tentang apa yang dilihat orang pada dirimu : nilai, dan jargon-jargon society.
Kesadaran mengajarkan sesuatu yang berbeda. Hargailah manusia saat masih menjadi ulat. Temani saat prosesnya. Hormati keberadaannya sebelum ia menjadi apa pun. Karena cinta yang sejati tidak menunggu kupu-kupu muncul. Ia sudah hadir sejak masih berupa ulat.


