Andaikan Kita Semerdeka Engkau, Wahai Kerbau

Ada sebuah pemandangan sederhana di sawah. Seekor kerbau berjalan dengan tenang. Di punggungnya hinggap seekor burung. Beberapa saat kemudian burung itu terbang pergi. Lalu datang lagi burung yang lain. Kerbau tetap berjalan seperti biasa.

Ia tidak bangga ketika burung hinggap. Ia juga tidak marah ketika burung pergi. Kerbau tetap menjadi kerbau. Seakan tidak peduli, namun sebetulnya kerbau tidak terganggu.

Begitulah seharusnya kita menjalani hidup, semerdeka kerbau. Pujian datang, hinaan datang, pengakuan datang, penolakan datang. Ada yang menyukaimu. Ada yang tidak menyukaimu. Namun semua itu seperti burung yang hinggap sesaat di punggung kerbau. Mereka datang dan pergi sesuai alurnya sendiri.

Masalahnya, manusia sering lebih sibuk dengan “burung” daripada dengan hidupnya sendiri. Ketika dipuji, ia melambung. Ketika dihina, ia terpuruk. Ketika disayang, ia senang. Ketika ditolak, ia sedih. Padahal keduanya hanya peristiwa yang lewat.

Kebebasan lahir ketika kamu tidak lagi menggantungkan dirimu pada kedatangan dan kepergian itu. Biarkan pujian datang. Biarkan hinaan datang. Tidak perlu dikejar. Tidak perlu diusir. Tetaplah menjadi dirimu. Seperti kerbau yang terus berjalan di sawah, tenang, sederhana, dan tidak kehilangan dirinya, saat apapun hinggap di punggungnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *