
Luka yang Menutup dengan Sendirinya, Siapa yang Memulihkan?
Ketika kulitmu terluka, tubuhmu perlahan memperbaikinya. Jaringan yang rusak dipulihkan, luka menutup, dan kehidupan kembali berlangsung seperti biasa.
Pernahkah kamu bertanya, siapa yang melakukan semua itu? Apakah kamu harus memerintahkan setiap sel untuk bekerja? Apakah kamu perlu memahami seluruh prosesnya agar tubuhmu mampu memulihkan diri?
Tidak. Ada kecerdasan kehidupan yang bekerja tanpa harus menunggu perintah dari pikiranmu. Lalu, bagaimana dengan luka batin?
Ketika seseorang menyakitimu, pikiranmu sering berusaha keras untuk segera menghilangkan rasa sakit itu. Kamu mencari penjelasan, melawan perasaan, menyalahkan seseorang, atau memaksa diri untuk segera melupakan.
Tanpa disadari, perjuangan untuk menyingkirkan luka terkadang justru membuatmu terus terikat kepadanya.
Cobalah hadir dan melihat rasa sakit itu tanpa menyangkalnya. Bukan berarti kamu harus pasrah terhadap keadaan yang menyakitkan, melainkan memberi ruang bagi dirimu untuk merasakan, memahami, dan merespons dengan jernih.
Luka fisik memiliki mekanisme pemulihan biologis. Luka batin tidak selalu pulih dengan cara yang sama. Namun, ada satu hal yang bisa kamu renungkan.
Tidak semua yang pulih membutuhkan campur tangan pikiran. Terkadang, pemulihan dimulai ketika kamu berhenti berperang dengan apa yang sedang kamu rasakan.


