
Alamak! Ini Penderitaan atau Pengalaman?
Kata si individu: “Ini penderitaan.” Namun kata si kesadaran: “Ini pengalaman.”
Coba perhatikan ke dalam dirimu untuk memahami perbedaannya.
Individu selalu memiliki cerita. Ia menghubungkan peristiwa dengan identitasnya. Ia berkata, “Aku disakiti,” “Aku ditolak,” “Aku gagal,” “Aku kehilangan.” Dari situlah penderitaan lahir. Karena selalu ada “aku” yang menjadi pusat cerita.
Namun kesadaran tidak memiliki cerita. Kesadaran hanya melihat. Hanya menyaksikan. Hanya hadir.
Kesadaran melihat kesedihan datang. Melihat kemarahan muncul. Melihat kehilangan terjadi. Namun ia tidak berkata, “Ini milikku.” Ia hanya menyadari bahwa sebuah pengalaman sedang berlangsung.
Penderitaan bukan milik kesadaran. Penderitaan adalah milik identitas yang selalu melekat pada peristiwa & cerita-ceritanya. Penderitaan itu milik “aku” yang merasa menjadi korban, menjadi pemilik, menjadi pusat dari segala peristiwa.
Ketika penyaksian hadir, sesuatu berubah. Apa yang tadinya disebut penderitaan, perlahan akan terlihat sebagai pengalaman. Pengalaman yang hanya datang di suatu momen, dan akan berlalu di momen lainnya.
Pengalaman itu bukan untuk ditolak. Bukan untuk dihindari. Hanya untuk dialami dan disaksikan. Kemudian dia akan mengalir.. berlalu.
Kita kan sering mengontrol pengalaman tho, mengendalikanya dan mengolahnya menjadi cerita, jelas dia tidak akan mengalir. Ketika dia tidak mengalir, maka kembali lagi pengalaman itu menjadi penderitaan.
Sesungguhnya yang menderita adalah cerita tentang dirimu, si “aku” itu. Sedangkan kesadaranmu… tetap utuh, tetap hening, dan tetap menjadi saksi.


