Menghancurkan proyeksi tentang Tuhan sebagai “pribadi” bukan perkara mudah. Sejak kecil, kamu dibentuk oleh gambaran Tuhan sebagai sosok tertentu, dengan sifat, kehendak, bahkan emosi seperti manusia. Semua itu begitu melekat, menjadi bagian dari cara kamu memahami kehidupan.
Maka ketika proyeksi itu mulai dipertanyakan, yang terasa bukan sekadar perubahan pemahaman, tetapi seperti kehilangan pegangan. Namun jika kamu ingin mengenal hakikat Tuhan, proyeksi itu perlu dilepaskan.
Karena selama Tuhan masih kamu bayangkan sebagai “pribadi”, kamu masih melihat-Nya sebagai sesuatu yang terpisah darimu.
Padahal hakikatnya tidak pernah terpisah. Tuhan bukan sosok di luar sana. Ia bukan objek untuk dibayangkan.
Ia adalah kehidupan ini sendiri. Yang mengalir dalam napasmu, dalam kesadaranmu, dalam setiap detak yang kamu rasakan.
Ketika semua gambaran runtuh, kamu tidak lagi “memahami” Tuhan dengan pikiran. Kamu menjiwainya.
Tidak ada lagi jarak antara yang mencari dan yang dicari. Tidak ada lagi bentuk yang harus dipercaya. Yang ada hanyalah kehadiran yang hidup. Tanpa melekat dengan nama, rupa, namun begitu nyata.



