
Kacamata… Dimana Kacamata?
Seorang bapak panik mencari kacamatanya ke seluruh rumah. Laci dibuka. Kamar diacak. Istri ditanya. Anak disalahkan. Setelah hampir setengah jam mencari ke sana kemari, akhirnya ia sadar. Kacamatanya sedang bertengger di atas kepalanya sendiri.
Kamu pernah seperti ini? mencari kacamata yang ada di atas kepalamu sendiri?
Sering kali hidup kita tidak jauh berbeda. Kita mencari kebahagiaan ke mana-mana. Mencari ketenangan dari satu tempat ke tempat lain. Mencari jawaban dari satu guru ke guru lain. Dari satu buku ke buku lain. Dari satu keyakinan ke keyakinan berikutnya.
Kita berkeliling dunia untuk mencari “alat melihat”. Padahal alat itu sudah ada. Kesadaran yang sedang membaca tulisan ini. Keheningan yang bisa menyaksikan pikiran. Kehadiran yang mampu merasakan hidup saat ini. Semua alatnya sudah ada di dalam dirimu.
Bukan berarti belajar itu tidak penting. Bukan berarti mencari itu akan sia-sia. Bukan berarti guru tidak berguna. Namun guru yang baik hanya mengingatkanmu pada sesuatu yang sudah kamu miliki sejak awal.
Seperti bapak yang mencari kacamatanya. Yang hilang bukan kacamatanya. Yang hilang adalah ingatannya, kesadarannya bahwa kacamata itu sudah ada.
Maka berhentilah sejenak. Mungkin yang kamu cari selama ini tidak jauh. Mungkin ia sedang “nongkrong” di dalam dirimu sendiri.


