
“Ini cinta, monyet!”
Cinta monyet itu cinta yang fana, cinta yang childish, cinta yang takut kehilangan, cinta yang selalu butuh pemujaan dan pengakuan. Cinta seperti ini tidak hanya terjadi pada remaja, orang dewasa pun bisa terkena sindromnya.
Ketika orang terlalu mencintai namanya, jabatannya, kekuasaannya, bahkan seorang presiden pun bisa terlihat seperti monyet, yang serakah dan punya ketakutan yang besar.
Kadang manusia terlalu mencintai sesuatu hingga kehilangan kejernihan dirinya sendiri. Jabatan dicintai berlebihan. Kekuasaan dipeluk terlalu erat. Pengakuan dijaga mati-matian.
Dan ketika keterikatan itu terlalu kuat, manusia bisa kehilangan kewarasannya. Ia tidak lagi melihat dengan sadar, tetapi bereaksi seperti makhluk yang takut kehilangan apa yang dipegangnya. Di situlah ego bekerja.
Semakin seseorang melekat pada kekuasaan, semakin ia takut turun. Semakin mencintai citra dirinya, semakin ia gelisah ketika tidak dipuji atau dihormati.
Bahkan orang yang tampak besar sekalipun bisa menjadi kecil di hadapan keterikatannya sendiri. Karena masalahnya bukan pada jabatan atau kekuasaan. Semua itu hanyalah alat dan peran sementara. Yang menjadi persoalan adalah ketika identitas diri melebur ke dalam sesuatu yang sementara dan fragile. Lalu manusia lupa siapa dirinya tanpa semua itu.
Maka cintailah secukupnya. Peganglah tanpa menggenggam terlalu keras. Karena apa pun yang terlalu dilekati, pada akhirnya bisa memperbudak kesadaranmu sendiri.
Dan ketika keterikatan runtuh, barulah manusia bisa kembali menjadi sederhana, dan bebas.


