Independent vs Mature

Perbedaan antara independent (mandiri) dan mature (dewasa) ini memang agak samar. Independen itu lebih ke urusan fisik, dompet, ekonomi, dan… ego.

Di zaman modern ini, khususnya pada kaum perempuan, “independent” sering diartikan sebagai kemampuan survival. Bisa cari uang sendiri, punya karir, bayar tagihan sendiri, sampai angkat galon air sendiri. Tapi begini lucunya, banyak perempuan yang mendadak jadi sangat independent

bukan karena mereka bebas, tapi karena mereka takut.

​Independensi kadang dipakai sebagai perisai baja. “Aku tidak butuh laki-laki! Aku tidak butuh siapa-siapa!” Nah, ketika seseorang terus-terusan berteriak bahwa dia tidak butuh siapa-siapa, itu justru reaksi dari luka, ego, atau ketakutan akan ketergantungan.

Jadi, mereka bisa mandiri secara fisik dan materi, tapi di dalam batinnya, mereka seperti anak kecil yang takut disakiti. Kalau egonya tersentil sedikit, mereka bisa meledak, bisa rapuh. Ini yang saya maksud dengan independen tapi tidak dewasa.

​Kedewasaan (maturity) itu ranahnya jiwa. Kedewasaan bukan tentang apakah kamu bisa berdiri sendiri tanpa bantuan orang lain, tapi tentang bagaimana kamu merespons kehidupan. Seorang perempuan bisa saja tidak independent secara finansial, misalnya, dia memilih menjadi ibu rumah tangga yang bergantung pada penghasilan suaminya, tapi dia bisa luar biasa dewasa.

Kedewasaan berarti dia punya stabilitas emosi. Dia tidak memproyeksikan rasa tidak amannya (insecurity) ke pasangannya. Dia nyaman dengan dirinya sendiri, punya empati yang luas, dan yang paling penting: dia berani untuk menjadi rentan (vulnerable).

​Ya, rentan itu manusiawi ko. Hidup itu kan tentang hubungan (relationship). Perempuan yang sungguh-sungguh dewasa tahu bahwa kemandirian mutlak itu hanya ilusi, karena seluruh alam semesta ini saling bergantung. Dia tidak merasa hina ketika harus bersandar atau meminta tolong, karena dia tahu nilai dirinya tidak berkurang gara-gara itu.

​Jadi, kesimpulannya, para perempuan independent yang tidak dewasa itu “terkadang” membangun benteng baja yang megah, terlihat kuat dari luar, tapi di dalam benteng itu, dia kesepian dan terus-terusan bertarung dengan bayangannya sendiri. ​Sementara perempuan dewasa, entah dia independent atau tidak, hidupnya seperti air. Dia mengalir, fleksibel, tahu kapan harus membelah batu sendirian, dan tahu kapan harus melebur bersama aliran sungai yang lebih besar, tanpa takut kehilangan jati dirinya. Dan, puncak kedewasaan itu justru ketika seseorang tidak lagi pusing membuktikan kepada dunia bahwa dia “independent”.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *