Di balik Derita ada Permata

Pepatah berkata, “Di balik derita ada permata.” Itu benar. Namun hanya bagi mereka yang mau sadar.

Karena penderitaan tidak otomatis melahirkan kebijaksanaan. Ia hanya menjadi pintu. Masuk atau tidak, sepenuhnya bergantung pada kesadaranmu.

Sering kali kita justru betah menderita. Mengulang cerita yang sama, memelihara luka yang sama, lalu menjadikannya identitas. Bukan karena derita itu indah, tetapi karena kita sudah terbiasa tinggal di dalamnya.

Permata tidak tersembunyi di balik derita. Permata tersembunyi di balik kesadaran yang lahir saat derita dipahami.

Begitu kamu berhenti melawan, berhenti menyalahkan, dan mulai melihat dengan jernih, derita kehilangan kuasanya. Yang tersisa bukan luka. Melainkan kebijaksanaan. Dan itulah permata yang sesungguhnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *