
Memahami Emosi [Part 5] : Rasa Percaya pun adalah Sebuah Emosi
Rasa percaya atau kepercayaan pun adalah sebuah emosi.
Kita sering mengira percaya sebagai sesuatu yang sepenuhnya objektif. Padahal ketika kamu berkata, “Aku percaya kepadanya,” ada rasa aman, rasa yakin, rasa nyaman yang sedang muncul di dalam dirimu.
Bahkan ketika kamu berkata, “Aku percaya kepada Tuhan,” perhatikan baik-baik: apakah itu sebuah pengenalan langsung, atau sebuah rasa percaya yang dibangun dari ajaran, pengalaman, ingatan, dan cerita yang kamu terima?
Begitu pula dengan tidak percaya. “Aku tidak percaya Tuhan.” Kalimat itu pun dapat membawa muatan emosional: ketidaksetujuan, penolakan, kecewa, marah, takut, atau pengalaman masa lalu.
Maka jangan buru-buru menganggap percaya maupun tidak percaya sebagai kebenaran terakhir. Keduanya bisa menjadi sesuatu yang sedang terjadi di dalam dirimu.
Lihatlah. Ketika percaya muncul, saksikan rasa percayanya. Ketika ragu muncul, saksikan keraguannya. Ketika tidak percaya muncul, saksikan juga.
Jangan buru-buru memilih salah satunya. Karena selama kamu masih berada pada gerak percaya dan tidak percaya, kamu masih berada pada wilayah pengalaman.
Dan penyaksian berada satu langkah lebih dalam. Bukan percaya. Bukan tidak percaya. Tetapi melihat dengan jernih apa yang sedang terjadi.


