
Mendengar [Part 1] : Ketika Diam Kamu Akan Benar-Benar Mendengar
Kamu akan betul-betul bisa mendengar ketika kamu sepenuhnya diam.
Sering kali kita mendengar seseorang berbicara, tetapi sesungguhnya kita tidak sedang mendengarkan. Tubuh kita ada di hadapannya, telinga kita menangkap suara, tetapi pikiran kita sedang berada di ruang dan waktu yang lain.
Kadang kita sibuk menyiapkan jawaban. Kadang sedang mengingat pengalaman yang mirip. Kadang menilai apa yang dikatakan. Bahkan sebelum orang itu selesai berbicara, pikiran kita sudah membuat kesimpulan.
Akibatnya, kita tidak pernah benar-benar bertemu dengan apa yang sedang dikatakan. Mendengar membutuhkan lebih dari sekadar telinga.
Mendengar membutuhkan kehadiran.
Ketika kamu diam, kamu tidak buru-buru menafsirkan. Tidak buru-buru membenarkan. Tidak buru-buru menolak. Kamu hanya menerima suara itu sebagaimana adanya.
Dan dalam keheningan seperti itu, sesuatu yang sederhana terjadi: kamu tidak hanya mendengar kata-kata, tetapi mulai mendengar manusia di balik kata-kata.
Mungkin selama ini yang membuat kita sulit mendengar bukan karena suara orang lain terlalu pelan. Tetapi karena suara di dalam kepala kita terlalu ramai.
Maka ketika seseorang berbicara kepadamu hari ini, cobalah benar-benar hadir. Diamlah. Dengarkan.
Sebab hanya dalam diam, perjumpaan yang sesungguhnya dapat terjadi.


