
Aku Tidak Tahu
“Aku tidak tahu.”
Kalimat sederhana ini mungkin terdengar seperti tanda bahwa seseorang belum memahami sesuatu. Namun dalam perjalanan kesadaran, justru kalimat ini dapat menjadi tanda kedalaman.
Semakin jauh seseorang berjalan dalam kebangkitan, semakin ia menyadari bahwa pengetahuannya terbatas.
Dulu, kita ingin memiliki jawaban untuk segala sesuatu. Kita ingin memahami Tuhan, kehidupan, diri sendiri, bahkan pengalaman batin. Kita mengumpulkan konsep, ajaran, pengalaman, dan kesimpulan.
Namun perlahan, semua itu mulai terlihat sebagai penunjuk, bukan kenyataan itu sendiri. Yang dahulu kita yakini sebagai kepastian, mulai kita lihat sebagai dugaan. Yang dahulu kita anggap sebagai pemahaman, ternyata hanya gambaran pikiran.
Lalu kita sampai pada sebuah ruang yang sangat sederhana: Aku tidak tahu. Bukan kebingungan. Bukan kemunduran. Melainkan keterbukaan.
Ketika kamu tidak lagi sibuk merasa tahu, kehidupan dapat memperlihatkan dirinya tanpa harus disesuaikan dengan kesimpulanmu. Maka jangan ukur kemajuan spiritualmu dari seberapa banyak jawaban yang kamu miliki.
Ukurlah dari seberapa luas ruang dalam dirimu untuk tidak mengetahui. Semakin kamu mampu berkata “aku tidak tahu”, semakin terbuka kemungkinan untuk benar-benar melihat.


