
Kita adalah Yang Baik dan juga Yang Buruk
Kita adalah protagonis dan antagonis.
Kita adalah Pandawa dan Kurawa.
Kita adalah malaikat dan iblis.
Kita adalah yang suci dan yang hina.
Semua itu ada di dalam satu entitas diri yang sama.
Namun pikiran selalu ingin membelah. Ia memberi label. Ini baik, itu buruk. Ini benar, itu salah. Lalu tanpa sadar, kamu hanya ingin menjadi satu sisi, dan menolak sisi yang lain. Di sinilah perpecahan dimulai.
Kamu berusaha menjadi “baik”, sambil menekan yang kamu anggap “buruk”. Padahal yang kamu tekan tidak pernah hilang, ia hanya bersembunyi dan muncul dengan cara lain.
Keutuhan tidak lahir dari memilih salah satu sisi. Keutuhan lahir dari menerima semuanya. Bukan berarti kamu membenarkan segalanya, tetapi kamu melihat dengan jernih bahwa semua adalah bagian dari satu kesatuan.
Apa yang tampak sebagai pertentangan, sebenarnya hanyalah dua wajah dari satu sumber yang sama. Pikiran yang membelahnya menjadi dualitas. Sementara kesadaran melihatnya sebagai satu.
Ketika kamu berhenti membelah dirimu sendiri, kamu tidak lagi berperang di dalam. Kamu menjadi utuh. Bukan karena sempurna, tetapi karena kamu tidak lagi terpisah dari kodratmu sendiri, yaitu: tidak sempurna.


