
Selama Cinta-mu Masih Personal, maka Akan Selalu Ada Si “Korban” dan Si “Jahat”
Perselisihan, pertengkaran, dan ketidakcocokan sering terlihat buruk. Dalam percintaan, biasanya muncul dua peran: si “korban” dan si “penjahat.” Satu merasa disakiti. Satu dianggap menyakiti. Namun jika dilihat lebih dalam, tidak sesederhana itu.
Di dunia ini, sebetulnya banyak orang baik, hanya saja mereka bernasib sial dalam urusan cinta. Bukan karena mereka jahat, tetapi karena cinta yang dijalani masih bersifat personal: penuh harapan, tuntutan, dan keterikatan.
Selama cinta masih personal, kamu akan terus berganti peran. Kadang menjadi korban, kadang menjadi penjahat. Semua itu lahir dari ego yang ingin dipenuhi.
Ketika harapan tidak terpenuhi, luka muncul. Ketika kebutuhan tidak terjawab, konflik terjadi. Namun ada bentuk cinta yang berbeda. Cinta yang tidak lagi berpusat pada “aku” dan “kamu”, tetapi melampaui keduanya. Cinta yang tidak menuntut, tidak mengikat, dan tidak membangun identitas. Itulah cinta transendental.
Di sana, tidak ada lagi korban. Tidak ada lagi penjahat. Yang ada hanyalah perjumpaan dua kesadaran, yang saling berbagi tanpa saling memiliki. Dan di situlah cinta tidak lagi melukai, tetapi membebaskan.


