
Untuk Apa Berpuasa
Ananda tersayang,
Untuk apa berpuasa jika kamu hanya menahan nafsu dan hasrat, lalu besok, atau beberapa jam kemudian, yang kamu tahan itu meledak lagi? Menahan saja sering hanya memindahkan masalah. Ia seperti menekan pegas, makin ditekan, makin ingin memantul.
Tugasmu bukan sekadar menahan, tapi memahami. Puasa adalah cermin yang mendekatkanmu pada ego dan hasratmu. Saat lapar datang, kamu melihat, ternyata aku mudah marah. Saat keinginan muncul, kamu melihat, ternyata aku bergantung. Saat tidak bisa menuruti kebiasaan, kamu melihat, ternyata aku tidak bebas.
Di situlah puasa menjadi jalan kesadaran, bukan membuatmu “suci”, tapi membuatmu jujur pada mekanisme batin. Kamu belajar berjarak. Kamu tidak berperang dengan hasrat, tidak juga menuruti. Kamu mengamati seperti penyaksi: “Oh, ini dorongan.” “Oh, ini ego minta dipuaskan.”
Ketika kamu mampu melihat tanpa konflik, hasrat kehilangan kuasanya. Ego tidak lagi jadi tuan. Akhirnya, puasa menjadi latihan kemerdekaan, sebuah trial to liberation. Kamu membuktikan bahwa kamu bisa hidup tanpa dikendalikan oleh dorongan-dorongan kecil.
Ananda, jika kamu berpuasa, cobalah bukan hanya menahan, tapi melihat. Saat dorongan muncul, tarik napas pelan dan katakan, “Aku melihatmu.” Bukan menahan dengan tegang, tapi memahami dengan sadar.
Puasa yang sadar tidak membuatmu keras. Puasa yang sadar membuatmu merdeka.


