
Mengizinkan Pengalaman Mengalir Sampai Tuntas
Pasrah bukan berarti menyerah. Pasrah bukan berarti lemah, malas, atau berhenti hidup. Pasrah adalah mengizinkan pengalaman mengalir sampai tuntas.
Ketika sedih hadir, kamu mengizinkan kesedihan itu dirasakan. Ketika kecewa datang, kamu tidak menolaknya. Ketika bahagia muncul, kamu pun tidak menggenggamnya terlalu erat. Semua dibiarkan bergerak sesuai alirannya.
Namun manusia sering melawan pengalaman. Yang tidak disukai ditolak. Yang menyenangkan dipertahankan. Dari situlah penderitaan lahir. Karena hidup pada dasarnya terus mengalir, sementara pikiran ingin mengendalikan dan menghentikan aliran itu sesuai maunya.
Pasrah berarti berhenti berperang dengan kenyataan. Bukan tidak bertindak, tetapi tidak lagi menolak apa yang sedang terjadi di dalam dirimu. Kamu membiarkan pengalaman menjalani perjalanannya sampai selesai.
Dan anehnya, ketika kamu tidak melawan, rasa itu justru lebih cepat tuntas. Kesedihan berlalu. Kecewa mereda. Ketakutan kehilangan energinya. Mengapa? Karena tidak ada lagi “aku” yang sibuk menahannya.
Maka pasrah adalah bentuk kepercayaan terdalam pada kehidupan. Bahwa semua yang datang, akan pergi pada waktunya.


