Istilah “pemerintah” sering membuat jarak, seolah ada yang di atas untuk mengatur, dan yang di bawah untuk diatur.
Dan saat ini pemerintah seperti kelompok kekuasaan yang mendistribusikan kekayaan kepada geng-nya saja. Kekuasaan tanpa kesadaran akan cenderung melayani diri sendiri.
Padahal hakikatnya, yang dibutuhkan sebuah bangsa bukanlah penguasa, melainkan pelayan. Pelayan yang hadir untuk melayani kehidupan bersama, menjaga keseimbangan, dan memastikan keadilan mengalir bagi semua, bukan hanya untuk kelompok tertentu.
Namun perubahan tidak selalu dimulai dari atas. Ia dimulai dari cara pandang di lingkungan kecil seperti keluarga. Ketika manusia melihat kepemimpinan sebagai pelayanan, maka yang lahir bukan lagi keinginan untuk berkuasa, tetapi kesiapan untuk bertanggung jawab.
Menjadi pemimpin bukan tentang duduk di atas, tetapi tentang berdiri di tengah, melayani.
Dan kesadaran ini tidak hanya untuk mereka yang memimpin negara. Setiap orang adalah pemimpin dalam lingkupnya masing-masing, khusunya keluarga.
Karena keluarga adalah embrio dari bangsa, jadi kalau ada bangsa yang gagal mungkin itu karena banyak dari rakyatnya yang amburadul dalam berkeluarga.



