AGAMA : Dari HUKUM menjadi ROMANTISME

Agama diturunkan untuk orang jahil, menjadi hukum bagi orang keji dan munkar. Ia hadir sebagai penuntun bagi manusia yang masih tersesat dalam ketidaksadaran. Ia memberi batas, memberi aturan, agar manusia yang masih dikuasai ego, hasrat, amarah, dan kebingungan tidak semakin jauh dari arah.

Bagi yang masih jahil, agama menjadi pagar. Menjadi hukum yang menjaga agar kehidupan tidak jatuh ke dalam kekacauan.

Namun ketika kesadaran mulai tumbuh, ketika hati mulai dipenuhi kasih sayang, esensi agama pun berubah.

Ia tidak lagi terasa sebagai kewajiban yang menekan, bukan lagi sekadar aturan yang harus ditaati. Ia menjadi musik yang penuh nada, menjadi rasa yang mengalir, menjadi hubungan yang intim antara dirimu dengan kehidupan itu sendiri.

Di titik ini, agama tidak lagi sekadar hukum… ia menjadi romantisme.

Romantisme antara dirimu dengan semesta. Setiap langkah menjadi ibadah, setiap napas menjadi doa, setiap perjumpaan menjadi perayaan.

Kamu tidak lagi berbuat baik karena takut, tetapi karena cinta.

Maka tanyakan pada dirimu. Apakah kamu masih berjalan karena aturan, atau sudah bergerak karena kasih? Karena pada akhirnya, tujuan dari semua jalan adalah sama, membawamu kembali pada cinta yang sejati.

Saat membaca ini jangan diberikan dalil ya. Cinta ya cinta. Sebab romantisme tidak bisa dijelaskan rasanya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *