Cobalah untuk Tidak Memilih, Perlahan Kamu Akan menjadi Utuh

Ananda tersayang,
Ketika kamu tidak memilih, kamu mulai menjadi utuh. Saat kamu memilih menjadi “baik”, diam-diam kamu menciptakan bayangan “buruk” di dalam dirimu. Konflik batin terjadi.

Saat kamu memilih “Tuhan”, pikiranmu akan menciptakan “sifat iblis” sebagai lawan. Kamu tidak menyadari bahwa dalam pikiran yang suka menciptakan gagasan dualistik : keberadaan Iblis adalah mutlak, sehingga kamu bisa mendekat kepada Tuhan.

Begitulah cara dualitas bekerja, ia selalu menciptakan dua hal yang berlawanan, namun sesungguhnya mereka pasangan yang saling bergantung dan saling mempengaruhi. Jika yang satu tidak ada, yang lain pun tidak ada. Seperti, kita tidak akan melabeli rasa manis sebagai “manis” jika kita tidak pernah bersentuhan dengan rasa pahit.

Maka jalan pulang adalah menerima apa adanya. Bukan menjadi baik atau buruk, tapi melihat semuanya dengan jernih tanpa harus memihak. Dalam penerimaan yang utuh, perlahan ego akan luluh. Tidak ada konflik di dalam diri.

Saya beri contoh, misal surga itu ada. Jika pendosa menerima surga, maka dia akan sebut itu sebagai kemurahan Tuhan. Namun jika yang merasa beriman mendapat surga, sering kali ia merasa itu hasil usahanya. Di situlah ego bersembunyi: merasa layak, merasa pantas, merasa lebih.

Ego tidak hilang karena dilawan. Semakin kamu melawan, ia semakin kuat. Ego hilang ketika tidak ada lagi yang perlu dipertahankan, dikuasai, dibandingkan, dan dipilih.

Coba deh, lepaskan kebutuhan untuk menjadi “sesuatu” atau “seseorang”. Cukup hadir sebagaimana adanya. Hanya hadir. Menyatu dengan kehidupan yang sudah utuh sejak awal. Di sana, kebebasan dari ego mulai terasa. Dan dari kebebasan itu, lahir kedamaian yang sejati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *