Mengapa Kita Tajam Melihat Salah Orang Lain, tapi Buta pada Salah Diri Sendiri

Ananda tersayang,
Mengapa kita begitu tajam melihat salah orang lain, tapi buta pada salah diri sendiri? Karena melihat salah orang lain itu mudah, tidak ada risikonya. Kita tidak perlu berubah, tidak perlu merendah, tidak perlu mengakui apa pun. Kita cukup menunjuk.

Kita memakai kaca pembesar untuk orang lain, kesalahannya tampak besar, jelas, seolah tak termaafkan. Tapi untuk diri sendiri kita memakai kain penutup. Kesalahan kita jadi samar, diberi alasan, dibenarkan, bahkan dipoles agar terlihat wajar.

Ini kerja ego, Ananda. Ego selalu ingin tampil benar, ingin selamat dari rasa malu. Padahal keberanian yang sejati adalah berani bercermin. Karena melihat salah diri memang ada risikonya. Kamu harus mengaku, harus berbenah, harus berubah. Tidak nyaman untuk ego, tapi justru di situlah pertumbuhan dimulai.

Saat kamu tergoda mengoreksi orang, berhenti sebentar dan tanya, “Bagian mana dalam diriku yang sama?” Bukan untuk menyalahkan diri, tapi untuk menyadarkan diri.

Kalau kamu bisa menurunkan kaca pembesar itu, dan membuka kain penutup itu perlahan, hidupmu akan lebih damai. Karena kamu tidak lagi sibuk menghakimi, kamu sibuk berbenah.

Ananda, orang yang sadar tidak gemar mencari salah. Ia gemar mengenali diri. Dan dari pengenalan itu lahir kebijaksanaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *