
Pikiran dan Kesadaran: Siapa yang Menyadari?
Bisakah proses melihat terjadi tanpa “subjek” pelihat? Mungkin logikamu menjawab, “bagaimana bisa?”
Saya beri analogi ya. Pernahkah kamu memperhatikan apa yang sebenarnya terjadi ketika kamu melihat sebuah pohon?
Ada pohon yang terlihat. Ada warna hijau, bentuk batang, dan gerak daun tertiup angin. Semua itu hadir dalam pengalaman melihat.
Namun, cobalah perhatikan lebih dekat. Sebelum pikiran berkata, “Aku sedang melihat pohon,” bukankah melihat itu sendiri sudah berlangsung?
Lalu, apakah kamu harus menemukan sosok pelihat yang terpisah dari proses melihat itu?
Pikiran kemudian muncul dan berkata, “Aku yang melihat.” Tetapi kalimat itu sendiri hanyalah pikiran yang datang setelah pengalaman melihat berlangsung. Kalimat itu sudah tidak segar, basi. Pernyataan tersebut bukanlah pengalaman melihat itu sendiri.
Hal yang sama terjadi ketika kamu mendengar suara, merasakan sentuhan, atau menyadari pikiran yang muncul. Ada sesuatu yang tampil dan diketahui, tanpa kamu harus membayangkan sosok kecil di dalam dirimu yang bertugas mengamati semuanya.
Bahkan, ketika gambaran tentang “aku sebagai pengamat” muncul, gambaran itu pun dapat disadari.
Mungkin, selama ini kamu terlalu sibuk mencari siapa yang melihat, hingga luput memperhatikan bahwa melihat sedang berlangsung dengan sendirinya.
Mungkin, yang tersisa bukanlah seorang pelihat yang terpisah dari pohon, melainkan peristiwa melihat itu sendiri. Tanpa perlu membangun sosok “aku” di antara keduanya.
Jangan buru-buru mempercayai kalimat ini ya, anggap saja gosip dari saya.
Coba kamu lihat pohon. Ketika melihat pohon berikutnya, cobalah amati secara langsung, sebelum pikiran sibuk menamai dan mengklaim pengalaman itu sebagai milikmu.


