
Saksi dan Akui
Menjadi saksi ternyata membutuhkan alat. Kamu perlu teliti, hati-hati, tertib, penuh perhatian, dan waspada. Bukan untuk mencari kesalahan, melainkan agar kamu mampu melihat apa yang benar-benar sedang terjadi, baik di luar maupun di dalam dirimu.
Namun, penyaksian saja belum cukup. Saksi harus ditutup dengan akui. Akui berarti menerima keberadaan apa adanya. Melihat kejadian tanpa menyangkalnya. Merasakan emosi tanpa memusuhinya. Mengenali pikiran tanpa harus mempercayainya. Semuanya dilakukan dengan tenang, sabar, sadar, menerima, dan pasrah.
Sebab ketika kamu hanya menjadi saksi tanpa mengakui, penyaksian bisa berubah menjadi penghakiman. Kamu mengamati untuk mencari kesalahan. Kamu memperhatikan untuk mengendalikan. Bahkan kamu bisa menjadikan dirimu sebagai korban yang merasa paling benar.
Padahal, menyaksikan bukanlah mengadili. Mengakui bukanlah menyetujui. Kamu tetap bisa melihat sesuatu sebagai keliru dan mengambil tindakan yang diperlukan, tanpa menyangkal kenyataan bahwa hal itu sedang terjadi.
Saksi melihat. Akui menerima. Ketika keduanya berjalan bersama, kamu tidak lagi sibuk melawan kenyataan atau menguasainya. Kamu melihat dengan jernih, menerima keberadaannya, lalu membiarkan tindakan yang tepat muncul dari kejernihan itu.
Jadi, jangan hanya menjadi saksi atas kehidupan. Akuilah juga kehidupan sebagaimana adanya.


