
Yang Disaksikan Bukan untuk Dikuasai
Yang disaksikan bukan untuk dikuasai. Ia disingkapkan oleh kehidupan agar dapat dikenali, diakui, dan diiringi sebagaimana adanya.
Inilah mengapa penyaksian menjadi penting. Ketika sesuatu muncul dalam kehidupan, pikiran sering kali segera ingin mengambil alih. Ia ingin menjelaskan, menilai, memberi nama, mencari sebab, lalu menentukan apa yang seharusnya terjadi.
Padahal pikiran sendiri adalah bagian dari apa yang sedang terjadi. Pikiran bukan alat untuk menyaksikan. Pikiran adalah salah satu yang disaksikan.
Ketika pikiran muncul, saksikan.
Ketika emosi bergerak, saksikan. Ketika tubuh merasakan sesuatu, saksikan. Ketika sebuah kejadian hadir di luar dirimu, saksikan.
Tidak perlu segera menguasainya. Sebab kehidupan tidak selalu meminta kamu melakukan sesuatu terhadap apa yang sedang terjadi. Kadang kehidupan hanya sedang memperlihatkan sesuatu agar kamu mengenalinya dengan jernih. Dan ketika pengenalan itu jernih, gerak berikutnya dapat muncul tanpa harus dipaksakan oleh pikiran.
Menyaksikan bukan berarti pasif. Menyaksikan berarti tidak mencampuri apa yang sedang disingkapkan kehidupan. Lalu kamu bergerak bukan karena ingin menguasai kehidupan, tetapi karena kehidupan sedang bergerak melalui dirimu. Pertanyaannya, apakah kamu mengizinkannya?


