
Mendengar [Part 3] : Mendengar adalah Meditasi
Begitu kamu menata cara mendengar, kamu sedang memasuki sebuah fase meditasi yang mendalam. Tidak perlu mencari tempat yang sunyi.
Suara bising kemacetan, dengarkan. Suara alam dan angin, dengarkan. Suara burung, dengarkan. Suara manusia, dengarkan.
Dengarkan semuanya tanpa memilih mana yang kamu sukai dan mana yang kamu tolak.
Jangan buru-buru memberi nama. Jangan menilai. Jangan mengatakan, “Suara ini mengganggu,” atau “Suara itu menenangkan.” Hanya dengarkan.
Bahkan dengarkan suara vokalmu sendiri ketika keluar dari mulutmu. Dengarkan kata-kata yang kamu ucapkan, bukan hanya maknanya.
Ketika kamu benar-benar mendengar, sesuatu yang sederhana terjadi: kamu berhenti menambahkan cerita ke dalam suara yang sedang hadir.
Tidak ada suara yang perlu dilawan. Tidak ada suara yang harus dicari. Kamu hanya menjadi ruang yang menerima.
Dan perlahan kamu menyadari bahwa meditasi tidak harus dilakukan dengan mata terpejam, duduk diam, atau mengikuti teknik tertentu. Mendengar dengan utuh adalah meditasi.
Ketika tidak ada lagi pendengar yang sibuk menilai apa yang didengar, hanya ada suara yang datang dan pergi dalam keheningan.


