Tuhan bagi Media Performer adalah Objek Pertunjukan Intelektual

Ada pergeseran cara manusia berhubungan dengan Tuhan.

Seorang believer, memposisikan Tuhan untuk diyakini. Tuhan dipercaya melalui kitab dan ajaran kepercayaan yang diterimanya.

Seorang analyzer, memposisikan Tuhan untuk dikaji. Kitab dibaca, ditafsirkan, dipahami dengan akal. Ia tidak sekadar ingin percaya, tetapi ingin memahami.

Seorang spiritual seeker, melangkah lebih jauh. Tuhan tidak hanya diyakini atau dipahami, tetapi ingin dialami. Ia ingin menemukan Tuhan sebagai pengalaman hidup, sebagai sesuatu yang hadir dalam kesadaran dan perbuatannya.

Namun ada posisi lain yang semakin sering kita lihat. Media performer, showman. Tuhan tidak diyakini. Tidak sungguh-sungguh dikaji. Tidak pula dialami.

Bagi showman, Tuhan menjadi objek pertunjukan intelektual, bahan perdebatan, dan panggung untuk menunjukkan siapa yang paling tahu, bahkan menjadi bahan tertawaan. Seperti itulah industri.

Padahal perjalanan spiritual seharusnya bergerak dari percaya, memahami, mengalami, lalu menjadi. Dan difase itu Tuhan hanya bisa dirasakan sebagai fenomena. Sekarang, apakah kamu sudah merasakannya? Kalau sudah ya cukup, tidak perlu dibahas, tidak perlu diperdebatkan. Jiwai saja dalam diam.. dalam hening..

Karena pada akhirnya, Tuhan bukan sekadar sesuatu yang kamu bicarakan. Bukan pula sesuatu yang harus kamu menangkan dalam perdebatan. Tuhan adalah sesuatu yang seharusnya mengubah cara kamu hidup.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *