
Menderita itu reaktif. Bahagia itu kontemplatif.
Penderitaan sering kali muncul bukan karena apa yang terjadi, melainkan karena reaksimu terhadap apa yang terjadi. Pikiran menolak kenyataan, emosi melawan keadaan, lalu lahirlah cerita yang membuat luka semakin dalam.
Sebaliknya, kebahagiaan tidak selalu membutuhkan keadaan yang sempurna. Ia lahir dari kemampuan untuk berhenti sejenak. Mengamati. Merenungkan. Lalu menerima kehidupan sebagaimana adanya.
Orang yang reaktif mudah dikendalikan oleh keadaan. Sedikit dipuji, ia melambung. Sedikit dicela, ia terjatuh.
Namun orang yang kontemplatif tidak terburu-buru bereaksi. Ia memberi ruang bagi kesadaran untuk melihat sebelum merespons. Di dalam ruang itulah kebijaksanaan tumbuh.
Maka, jika ingin mengurangi penderitaan, jangan sibuk mengubah dunia. Mulailah dengan mengurangi reaksimu.
Karena saat kesadaran hadir, yang berubah bukan hanya cara kamu melihat kehidupan. Tetapi juga kualitas kehidupan itu sendiri.


