
Transformasi Spiritual (Part 4): Dari Pengendalian Menuju Kepasrahan
Kita kan suka sekali mengatur ya.. Segala hal ingin kita kendalikan, bahkan kalau bisa semua orang harus sesuai dengan apa yang kita mau. Itulah ego yang selalu ingin mengatur kehidupan.
Ia ingin mengendalikan hasil, mengatur orang lain, memastikan masa depan, bahkan memaksa kenyataan berjalan sesuai keinginannya. Namun semakin kuat keinginan untuk mengendalikan, semakin besar pula gelisah yang muncul. Karena hidup tidak pernah sepenuhnya bisa kita genggam.
Transformasi spiritual dimulai ketika kamu menyadari bahwa semesta memiliki kecerdasannya sendiri. Di titik itu, kepasrahan lahir. Kepasrahan bukan berarti pasif. Bukan berarti berhenti berusaha. Dan bukan pula menyerah karena kalah.
Kepasrahan adalah tetap melakukan yang terbaik dengan penuh tanggung jawab, lalu melepaskan keterikatan pada hasilnya. Kamu menanam, tetapi tidak memaksa bunga mekar hari ini. Kamu melangkah, tetapi tidak menuntut jalan selalu lurus. Inilah hidup yang selaras. Tidak ngoyo, tidak obsesif.
Ketika kebutuhan untuk mengendalikan mulai luruh, kamu akan merasakan bahwa ternyata kehidupan sudah bergerak dan menopang kita dengan baik. Dan yang tersisa hanyalah kebijaksanaan bahwa tidak semua harus diatur olehmu, karena kehidupan tahu ke mana ia sedang mengalir.


