
Keberanian yang Dipinjam
Pernahkah kamu memperhatikan? Sebagian orang tampak sangat berani ketika memegang senjata. Sebagian lagi begitu percaya diri ketika memiliki jabatan atau kekuasaan. Seolah-olah keberanian itu muncul dari dalam dirinya. Padahal sering kali yang bertambah bukan keberaniannya, melainkan rasa memiliki alat untuk mendominasi manusia lain.
Senjata dapat memberi ilusi kuasa, bahkan sampai perang. Jabatan dapat memberi ilusi “aku penting”. Kekuasaan dapat memberi ilusi bahwa semua orang harus mengikuti. Namun semua itu tidak alami, ketika semua itu dilepas, tampaklah kualitas yang sesungguhnya.
Keberanian sejati tidak bergantung pada apa yang ada di tanganmu, atau apa yang melekat pada satus sosialmu. Ia datang dari kejernihan dan matangnya kesadaran.
Begitu pula wibawa. Wibawa yang lahir dari jabatan akan ikut hilang ketika jabatan berakhir. Tetapi wibawa yang lahir dari kebijaksanaan akan tetap memancar, bahkan tanpa gelar dan kekuasaan sekalipun.
Maka jangan mencari kekuatan dari atribut di luar dirimu. Bangunlah keberanian yang tidak membutuhkan ancaman. Bangunlah kewibawaan yang tidak bergantung pada kedudukan.
Karena manusia yang benar-benar kuat tidak perlu membuat orang lain takut. Kehadirannya saja sudah cukup, membuat manusia lain sukarela untuk meneladani dan menyayanginya.


