Anak-anak Mampu Melewati Masa “Kanak-kanaknya”. Namun Orang Tua Tidak Mampu Melewati Masa “Ke-orangtua-annya”

Anak-anak pada akhirnya akan melewati masa kanak-kanaknya. Mereka tumbuh, berubah, belajar mengenal hidup, lalu perlahan berjalan dengan kakinya sendiri.

Namun sering kali, orang tua tidak bisa melewati “masa ke-orangtua-annya”. Mereka tetap melekat, tetap merasa memiliki, tetap ingin mengendalikan arah hidup anaknya. Seolah anak harus terus menjadi bagian dari dirinya. Di sinilah banyak luka hubungan lahir.

Kasih sayang perlahan berubah menjadi keterikatan. Perhatian berubah menjadi kontrol. Dan cinta kehilangan ruang kebebasannya. Padahal menjadi orang tua bukan berarti memiliki anak selamanya. Anak bukan milik. Ia adalah kehidupan yang dititipkan untuk tumbuh melalui jalannya sendiri.

Tugas orang tua bukan mengendalikan, tetapi mendampingi. Bukan membentuk sesuai keinginan pribadi, tetapi membantu anak menemukan dirinya sendiri.

Dan untuk itu, orang tua juga perlu bertumbuh. Belajar melepaskan. Belajar memberi ruang. Belajar menerima bahwa anak bukan perpanjangan ego dirinya.

Ketika orang tua mampu melewati “masa ke-orangtua-annya”, hubungan menjadi lebih sehat. Tidak lagi penuh tuntutan, tetapi penuh penghargaan. Dan cinta pun berubah, dari rasa memiliki, menjadi restu yang membebaskan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *