Tinggalkan Tuhan dalam Pikiran

“Tuhan” adalah kata yang kuat, namun berbahaya. Di satu sisi, ia membangkitkan gairah iman. Di sisi lain, ia bisa menumbuhkan pengharapan pada sosok di luar diri, yang jika tidak terpenuhi, justru melahirkan penderitaan. Keduanya sama-sama terjadi di dalam pikiran, keduanya mimpi.

Maka cobalah satu eksperimen sederhana, Ananda…selama beberapa hari, lepaskan kata “Tuhan” dari pikiranmu. Berani?

Bukan menolak, tetapi tidak memikirkannya sebagai konsep. Ketika berdoa, rasakan saja. Ketika bersyukur, arahkan pada kehidupan itu sendiri. Kalau masih butuh sebuah kata, ganti saja “Tuhan” dengan “Kehidupan” atau “Semesta”. Ucapkan, “Terima kasih Kehidupan” atau “Terima kasih Semesta”

Perlahan lihatlah bagaimana napasmu mengalir, tubuhmu hidup. Rasakan dalam setiap lakumu, bumi menopangmu, langit menaungimu. Semua itu nyata, hadir, dan langsung bisa kamu rasakan, tanpa perlu dibayangkan.

Coba seperti bayi saja, yang belum mengenal kata “Tuhan”, belum tau apapun tentang “Tuhan”, namun sepenuhnya hidup dalam keberadaan ini. Bayi itu manusia murni, tidak tahu nama, tidak tahu konsep, tetapi ia menyatu dengan kehidupan itu sendiri. Di sanalah kemurnian itu hadir.

Mungkin selama ini yang kamu cari bukan “Tuhan” sebagai kata, tetapi pengalaman langsung akan kehidupan, bukan begitu?

Beranikah kamu mencobanya? hilangkan “Tuhan” dalam pikiranmu untuk sehari saja. Bukan untuk meninggalkan, tetapi untuk mengalami. Mengalami tanpa perantara pikiran. Untuk merasakan hidup tanpa terjemahan pikiran.

One comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *