Ada manusia yang mengejar mahkota dengan cara memperkuat dirinya, mengumpulkan kekuasaan, materi, citra, dan ketenaran. Ia ingin menjadi raja di dunia, berdiri tinggi di atas pengakuan orang lain.
Namun ada mahkota lain yang tidak terlihat oleh mata. Mahkota ini tidak didapat dengan menumpuk, tetapi dengan melepaskan. Bukan dengan memperbesar “aku”, tetapi dengan meluruhkan “ke-diri-an” si “aku”. Inilah Sahasrara, mahkota kesadaran.
Ketika seseorang berhenti membangun identitas, berhenti membangun citra, dan mulai melepaskan keterikatan pada “aku”, perlahan simpul energi ini terbuka. Bukan karena usaha yang ambisius, tetapi karena pelepasan & keheningan yang mendalam.
Di titik ini, kamu tidak lagi merasa terpisah. Kamu merasakan keterhubungan dengan seluruh keberadaan. Tidak ada lagi batas yang kaku antara dirimu dan kehidupan. Semuanya terasa satu, dan mengalir dalam kesadaran yang sama.
Itulah sebabnya ia dilambangkan sebagai teratai seribu kelopak, yang mekar dalam kemurnian, melampaui dualitas, melampaui diri. Sebuah fenomena transendensi dari “aku” menjadi “kita yang satu”. Transendensi dari “ini baik – itu buruk”, atau “ini benar – itu salah”, menjadi “ini kehidupan.”
Menjadi raja dunia akan memberi kuasa di luar. Kerajaanmu semu. Namun membuka mahkota kesadaran memberi kebebasan di dalam. Kerajaanmu abadi.
Dan di sanalah puncak perjalanan itu, bukan untuk menjadi seseorang, tetapi melebur batin dengan seluruh keberadaan.



