Mengenang ayahanda…
Dulu, ketika kecil, saya hampir tidak pernah digendong dan dimanja seperti anak-anak pada umumnya. Tidak ada pelukan yang sering, tidak ada limpahan perhatian yang terlihat.
Namun ayah saya punya caranya sendiri. Ia “memanjakan” saya dengan sapu dan buku.
Sapu mengajarkan saya disiplin, tentang merawat, tentang tanggung jawab, tentang tidak membiarkan hidup berantakan. Dan menyapu itu mengajarkan tentang peka. Peka terhadap sesuatu yang terlihat kotor, yang perlu dibersihkan. Sehingga menumbuhkan peka ketika yang kotor itu pun ada di dalam.
Sementara buku membuka wawasan, tentang melihat dunia lebih luas, tentang berpikir, tentang memahami kehidupan. Membaca buku itu seperti menyelam ke dalam pikiran orang lain. Tentang bagaimana melihat dunia pikiran melalui kertas dan tinta.
Saat itu mungkin tidak terasa sebagai kasih sayang. Namun seiring waktu, saya mulai mengerti, mengapa dulu ayahanda selalu menyuruh saya untuk menyapu dan membaca. Itulah cara ayah saya “menggendong” saya.
Bukan dengan tangan, tetapi dengan nilai. Bukan dengan pelukan, tetapi dengan pembentukan. Dan hari ini, saya berterima kasih. Karena tanpa sapu dan buku itu, mungkin saya tidak bertumbuh seperti sekarang.
Ananda, cinta tidak selalu hadir dalam bentuk yang lembut. Kadang ia hadir dalam bentuk yang keras, sunyi, bahkan tidak terasa sebagai cinta. Namun ketika kamu melihat dengan kesadaran, kamu akan menemukan bahwa di balik semua itu, selalu ada terjemahan dari kasih.



