Manusia kenyang dengan sebungkus nasi, tapi selalu lapar dengan kekuasaan. Tubuhmu sederhana. Dengan sepiring makanan, ia bisa merasa cukup.
Namun ego berbeda. Ia tidak pernah benar-benar kenyang. Hari ini ingin cukup, besok ingin lebih. Sudah memiliki, masih merasa kurang. Sudah tinggi, masih ingin lebih tinggi.
Tubuh tahu batas. Ego tidak mengenal kata “cukup”. Di sinilah banyak manusia terjebak. Yang sebenarnya dibutuhkan hanya sedikit, namun yang dikejar tidak ada habisnya.
Kekuasaan, pengakuan, harta, posisi, semuanya menjadi makanan bagi ego. Dan semakin diberi, semakin ia menuntut. Bukan karena kebutuhan, tetapi karena ketidakpuasan yang tidak pernah selesai.
Maka lihatlah dengan jernih. Apakah kamu sedang memenuhi kebutuhan, atau sedang memberi makan ego?
Tubuh akan memberitahumu kapan cukup. Namun ego akan terus membisikkan: “kurang… kurang… kurang…”
Jika kamu terus mengikuti suara itu, hidup akan terasa lelah tanpa akhir. Namun ketika kamu kembali pada batasan kebutuhan lahir dan batin, kamu mulai mengenal rasa cukup. Dan di sanalah ketenangan lahir, bukan dari banyaknya yang dimiliki, tetapi dari berhentinya keinginan yang tak berujung.



