Bagiku, duduk diam sendiri menatap langit dari balik jendela kamar… adalah terapi.
Di tengah dunia yang bising, penuh tuntutan, dan tidak pernah benar-benar berhenti, ada keheningan kecil yang sering kita lupakan, diam tanpa tujuan.
Tidak melakukan apa-apa. Tidak mengejar apa-apa. Tidak menjadi apa-apa. Hanya duduk, dan melihat.
Langit mengajarkan sesuatu yang sederhana. Ia luas, terbuka, dan tidak menolak apa pun. Awan datang dan pergi, cuaca berubah, namun langit tetap ada, ia tidak terganggu oleh apapun yang melintas di dalamnya.
Seperti kesadaran kita. Pikiran, emosi, kekhawatiran, semuanya seperti awan dalam langit kesadaran. Mereka datang, bergerak, lalu pergi. Namun kita sering terlalu sibuk mengikuti awan, hingga lupa bahwa kita adalah “langit” itu sendiri.
Di dalam diam, kamu kembali mengingat. Bahwa tidak semua hal harus diselesaikan. Tidak semua hal harus dipikirkan. Tidak semua hal harus dikejar.
Kadang yang kamu butuhkan hanya berhenti sejenak… dan hadir.
Dan dari keheningan sederhana itu, sesuatu yang kacau perlahan akan pulih, tanpa kamu sadari, tanpa kamu usahakan. Saat itulah momen terapi bagiku.
Saat apa momen terapi bagimu?



