Ketika kamu tersinggung oleh ucapan seseorang, ingatlah, itu bukan pisau yang melukaimu. Ia hanyalah rangkaian kata, yang keluar dari ruang pikir orang. Terima, bahwa itu sekadar suara yang lewat di telinga.
Namun mengapa terasa sakit? Karena ada bagian dalam dirimu yang masih melekat. Ada “aku” yang ingin dipertahankan, yang merasa harus dihargai, diakui, atau dibenarkan.
Jangan beri energi untuk “aku” yang ingin dihargai dan dibenarkan. Ubah arah energimu, dari mode ingin bertahan atau menyerang, ubahlah ke mode mengamati. Ketika kamu mengamati “rasa tersinggung”, kamu akan sadar ternyata bukan ucapan orang lain yang melukai, tetapi keterikatan dalam dirimu sendiri.
Di situlah kesadaran perlu hadir untuk melihat “aku” dan “rasa tersinggung”. Bertanyalah ke dalam: Apakah “aku” ini pemilik rasa tersinggung? Kalau ya, berarti identitasmu adalah ego. Kalau tidak, artinya “aku” adalah yang sedang menyadari.
Jadi, jangan terburu-buru menyalahkan orang lain. Lihatlah lebih dalam, setiap rasa tersinggung adalah alarm halus yang menunjukkan bahwa masih ada ego yang belum dipahami. Dan ego itu sudah terlanjur menjadi “aku” yang palsu.
Alih-alih bereaksi, jadilah saksi. Amati perasaan itu tanpa menolak, tanpa membenarkan. Rasakan sepenuhnya, dan biarkan ia mengungkap apa yang selama ini tersembunyi.
Dari sana, engkau akan mulai mengerti, bahwa luka ketersinggungan bukan untuk dihindari, tetapi untuk disadari. Dia alarm.
Ketika kamu tersinggung oleh ucapan seseorang, ingatlah, itu bukan pisau yang melukaimu. Ia hanyalah rangkaian kata, yang keluar dari ruang pikir orang. Terima, bahwa itu sekadar suara yang lewat di telinga.
Namun mengapa terasa sakit? Karena ada bagian dalam dirimu yang masih melekat. Ada “aku” yang ingin dipertahankan, yang merasa harus dihargai, diakui, atau dibenarkan.
Jangan beri energi untuk “aku” yang ingin dihargai dan dibenarkan. Ubah arah energimu, dari mode ingin bertahan atau menyerang, ubahlah ke mode mengamati. Ketika kamu mengamati “rasa tersinggung”, kamu akan sadar ternyata bukan ucapan orang lain yang melukai, tetapi keterikatan dalam dirimu sendiri.
Di situlah kesadaran perlu hadir untuk melihat “aku” dan “rasa tersinggung”. Bertanyalah ke dalam: Apakah “aku” ini pemilik rasa tersinggung? Kalau ya, berarti identitasmu adalah ego. Kalau tidak, artinya “aku” adalah yang sedang menyadari.
Jadi, jangan terburu-buru menyalahkan orang lain. Lihatlah lebih dalam, setiap rasa tersinggung adalah alarm halus yang menunjukkan bahwa masih ada ego yang belum dipahami. Dan ego itu sudah terlanjur menjadi “aku” yang palsu.
Alih-alih bereaksi, jadilah saksi. Amati perasaan itu tanpa menolak, tanpa membenarkan. Rasakan sepenuhnya, dan biarkan ia mengungkap apa yang selama ini tersembunyi.
Dari sana, engkau akan mulai mengerti, bahwa luka ketersinggungan bukan untuk dihindari, tetapi untuk disadari. Dia alarm.



