
Perjalanan Bersama Napas
Hari ini mari menapaki perjalanan bersama napas. Napas itu guru paling setia, selalu ada, selalu jujur. Ada beberapa fase perjalanan bersama napas :
- Napas yang dihirup dan dihembus : kamu hanya menjadi Pelaku Napas. Hidup masih otomatis, sekedar hidup. Tidak salah, ini dasar semua makhluk.
- Napas yang dihayati : kamu menjadi Penghayat Napas. Ada rasa syukur, ada kehadiran, kamu mulai merasakan hidup di dalam tubuhmu. Kamu mulai hadir, mulai merasakan lembutnya tarikan, hangatnya hembusan. Ada kedekatan antara kamu dengan tubuh.
- Napas yang diikuti : kamu mulai mengalir bersama kehidupan. Tidak banyak melawan, tidak banyak memaksa. Kamu bergerak selaras bersama aliran semesta, lebih ringan. Ada pasrah yang aktif, bergerak tanpa memaksa.
- Napas yang disaksikan : inilah Kesadaran. Ada ruang yang melihat napas datang & pergi, tanpa ikut apa-apa. Di sana kamu bukan hanya napas, bukan hanya tubuh, bukan pikiran yang berpikir, bukan emosi yang merasa. Kamu adalah penyaksi yang hening. Kamu tidak lagi “melakukan” napas, kamu menyaksikan napas terjadi. Dan saat penyaksian itu stabil, batinmu menjadi hening, tenang tanpa sebab.
Sekarang saya bertanya pelan, Ananda, “di mana fasemu?” Tidak perlu menjawab dengan kata-kata. Cukup rasakan.
Dalam duduk diam, tutup mata, dan biarkan napas berjalan. Jangan ubah. Jangan atur. Hanya saksikan. Jika pikiran datang, kembali ke napas. Jika emosi naik, kembali ke napas. Napas yang disaksikan akan menuntunmu pulang kepada hakikatmu.


