Jangan Aduk Emosimu

Ananda tersayang,
Kita tidak perlu memblokir atau menghindari emosi. Emosi adalah tamu alamiah. Ia datang dan pergi. Yang membuatmu lelah bukan emosinya, tetapi kebiasaanmu menolak, menilai, dan mengaduk-aduknya dengan cerita di kepala.

Saat emosi datang dalam bentuk marah, sedih, takut, cemas, cukup terima dengan tenang. Jangan buru-buru diberi label baik – buruk. Jangan buru-buru dicari alasan. Jangan buru-buru diusir. Hadirlah sebagai penyaksi. Diam. Terima. Dan Akui saja.

Lama-lama kamu akan jernih. Seperti sungai yang sebenarnya jernih, namun ketika diaduk, lumpurnya naik dan mengotori. Tapi kalau kamu berhenti mengaduk, lumpur akan turun sendiri, air kembali bening. Begitu juga batin. Ketika kamu berhenti mengkondisikan emosi, berhenti bereaksi berlebihan, kamu sedang membiarkan “lumpur” emosi mengendap dengan sendirinya.

Kuncinya adalah “reaksi”-mu. Ketika kamu melawan dan mengkondisikan emosi, maka kamu akan menjadi emosi yang lain, energinya sama. Jadi, prinsipnya bukan melawan emosi, tapi tidak perlu ikut menjadi emosi. Kamu adalah ruang kesadaran yang lebih luas daripada marahmu, sedihmu, atau takutmu. Sadari itu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *