Ananda tersayang,
Rumahmu itu kegelapan, bukan cahaya. Kamu itu hening, bukan sinar. Bukan dalam arti suram, tetapi dalam arti kembali kepada asalmu: kehampaan yang murni. Sebelum pikiran menyala, sebelum nama melekat, sebelum identitas muncul, yang ada hanyalah ruang gelap yang sunyi, kondisi di mana semua kemungkinan lahir.
Cahaya selalu membutuhkan sumber dan arah. Ia muncul, bergerak, lalu lenyap. Tapi kegelapan abadi, tidak berubah, tidak membutuhkan apa pun. Itulah rumah batinmu. Kegelapan di sini adalah Sunyata, kekosongan yang penuh, tempat seluruh fenomena muncul dan kembali tanpa meninggalkan jejak.
Ketika kamu mengira dirimu adalah “cahaya”, kamu mulai mengidentifikasi keberadaanmu sebagai sesuatu. Dan bisa jadi sesuatu itu pada akhirnya ingin diterima, ingin terlihat, ingin bersinar. Kamu mengejar terang di luar, hingga lupa pulang ke ruang gelap yang menjadi asal kesadaranmu. Padahal cahaya apa pun hanya akan memperlihatkan yang fana. Ia indah, tetapi tidak pernah stabil.
Kembalilah, Ananda, ke dalam kegelapan yang hening itu. Di sana tidak ada tuntutan untuk menjadi siapa pun. Tidak ada peran, tidak ada beban citra, tidak ada upaya untuk bersinar. Yang ada hanyalah dirimu yang asli, diam, luas, dan bebas.
Hening adalah rumahmu. Gelap adalah visimu hadirmu. Dari sanalah kedamaian sejati lahir.



