Hening itu Struktur, Cinta itu Arsitektur

Ananda tersayang,
Hening itu struktur, fondasi. Sementara cinta adalah estetika-nya. Dalam ilmu bangunan, hening ibarat tiang dan pondasi yang kokoh, sedangkan cinta adalah arsitektur indah yang tampak di strukturnya.

Kalau rumah berpedoman pada estetika, tapi fondasinya rapuh, sedikit guncangan saja sudah runtuh. Begitu pula dalam hidup, jika kamu hanya mengejar rasa cinta, tanpa fondasi hening di dalam batin, cinta itu mudah berubah menjadi cemburu, takut kehilangan, takut terluka, trauma dan lain-lain.

Hening adalah saat kamu kembali pada dirimu yang paling murni, yang diam, sadar, tidak perlu menjadi siapa-siapa. Ketika fondasi ini kuat, cinta yang lahir darinya bukan lagi cinta ego, melainkan kasih, sebuah kualitas cinta yang memberi ruang, tidak memaksa, tidak mengikat. Ia hanya semangat untuk memberi, berbagi dan berkontribusi.

Jangan terbalik, Ananda. Jangan buru-buru mengejar ekspresi cinta yang indah sebelum pulang dulu ke rumah hening di dalam dirimu. Hadirlah dalam sunyi, rasakan bahwa kamu hanyalah bagian kecil dari semesta yang luas.

Dari kesadaran “aku bukan siapa-siapa” itulah akan lahir cinta yang halus, tenang, dan menumbuhkan. Cinta yang tidak sekedar indah dipandang, tapi juga kokoh menampung segala cuaca kehidupan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *