LUKA = Lalai Utuh Keseret Amarah

Ananda tersayang,
Hari ini saya ajak kamu melihat “luka” dari sudut yang berbeda. LUKA singkatan dari Lalai Utuh Keseret Amarah.

Sering kali yang kita sebut luka dan kesedihan sebenarnya adalah energi amarah yang tidak kita sadari dan tidak kita urai. Amarah itu bisa halus, dia bisa berkostum kecewa, berkostum tersinggung, merasa tidak dihargai, merasa diperlakukan tidak adil. Karena tidak kita lihat dengan jernih, akhirnya energi itu berubah bentuk jadi sedih berkepanjangan, jadi luka yang kita bawa ke mana-mana.

Saat kamu merasa ada “luka”, sebenarnya kamu sedang lalai dari keutuhanmu. Kamu lupa bahwa ada ruang di dalam dirimu yang tetap utuh, tetap tenang, tidak bisa tersentuh oleh apa pun. Maksud saya, ruang itu sudah ada sebelum kamu hadir sebagai nama, sebelum kamu mempunyai peran, dan menyandang identitas. Namun kamu tidak jadikan kehidupan yang telanjang itu sebagai poros energi, energimu sudah melekat pada kostum – kostummu. Akibatnya, kita sering keseret oleh arus amarah, menjadi cerita, menjadi kesal, akhirnya kehidupan yang murni itu menjadi identitas berkostum korban.

Ketika amarah muncul, jangan buru-buru menyebut “aku terluka”. Berjeda sejenak. Lihat lebih dalam, “di balik sedih ini, adakah amarah yang belum kuakui?” Jika ada, jangan lawan. Jangan mengutuk. Saksikan saja sampai ia terurai.

Kita sering lebay dengan istilah “Luka”, sedikit-sedikit Luka. Sadari itu cuma karena kostum kita sobek, dirusak. Luka itu seperti baju rusak yang harus dijahit. Padahal kehidupan tidak pernah rusak, tidak pernah sakit, ego-mu saja yang bisa sakit. Begitu amarah diterima dan dilihat dengan kesadaran, luka kehilangan dayanya. Semesta mungkin bicara, “tidak apa apa kamu cuma lecet, bukan kecelakaan besar.”

Dan kamu kembali ingat, kamu lebih luas dari perasaanmu. Kamu adalah penyaksi yang utuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *