Diam Itu Terapi

Ternyata diam itu terapi. Saat kamu diam, kamu sedang memberi ruang bagi batin untuk bernapas. Dunia ini terlalu bising dengan notifikasi, tuntutan, obrolan, perbandingan, berita. Kalau kamu tidak mematikan kebisingan itu, pikiranmu akan terus bekerja seperti mesin yang tidak pernah dimatikan, yang lama-lama panas, lelah, lalu meledak dalam bentuk cemas dan depresi.

Diam bukan berarti pasif atau menghindari hidup. Diam adalah cara merawat kesehatan mental. Kamu berhenti bereaksi, berhenti menambah cerita, berhenti mengunyah masalah yang sama di kepala. Dalam diam, kamu kembali ke napas, kembali ke tubuh, kembali ke “aku” yang lebih hening.

Coba diam satu hari penuh, dan dengarkan suara sekitar tanpa menilai. Tugasmu hanya mendengar tanpa interpretasi, tanpa harus menterjemahkan apapun di dalam pikiran. Rasakan ada ruang sunyi di balik semua suara. Di ruang itu, kamu tidak perlu jadi apa-apa. Kamu cukup hadir.

Kalau kamu rutin memberi diam pada dirimu, batinmu pulih. Kamu jadi lebih jernih dalam mengambil keputusan, lebih lembut dalam merespon, dan lebih damai menjalani hari.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *