Business of God

“Tuhan, aku menyembah-Mu… dan aku memohon rezeki.”

Perhatikan dengan jernih, kalimat ini sering terdengar seperti transaksi. Seolah ibadah menjadi pertukaran. Aku memberi penyembahan, lalu berharap mendapatkan balasan. Tanpa disadari, muncul apa yang disebut business of God.

Hal yang sama juga terjadi dalam kedermawanan. Memberi, namun diam-diam berharap keberkahan, pahala, atau balasan tertentu. Dari luar terlihat tulus, tetapi di dalam masih ada arah yang tersembunyi. Kemurnian mulai kabur.

Pemberian yang sejati tidak diarahkan. Ia tidak memiliki tujuan tersembunyi. Ia mengalir.

Ketika kamu memberi karena bahagia memberi, tanpa memikirkan ke mana hasilnya akan kembali, di situlah pemberian menjadi murni. Tidak lagi sebagai alat untuk mendapatkan sesuatu, tetapi sebagai ekspresi dari kelimpahan di dalam.

Ibadah pun demikian. Ia bukan transaksi. Ia adalah perjumpaan. Bukan untuk meminta, tetapi untuk terhubung & menyatu dalam rasa.

Maka biarkan semua yang kamu lakukan mengalir apa adanya. Tanpa pamrih, tanpa hitungan.

Karena ketika tidak ada lagi “bisnis” di antara kamu dan Illahi, yang tersisa hanyalah keheningan yang penuh, dan cinta yang sejati.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *