Emosi ya emosi. Tidak ada yang benar-benar jelek, dan tidak ada yang mutlak bagus.
Ia seperti lukisan. Sebuah ekspresi batin. Siapa yang bisa menentukan lukisan itu indah atau tidak? Setiap goresan memiliki maknanya sendiri. Begitu juga emosi, ia adalah cara batin mengekspresikan apa yang sedang terjadi di dalam.
Sering kali kita memberi label ini emosi baik, itu emosi buruk. Padahal emosi hanyalah energi yang bergerak dari data. Dari hasil olahan pengalaman, ingatan, dan persepsi yang masuk ke dalam pikiranmu.
Coba perhatikan alam, perhatikan langit. Emosi bekerja seperti alam. Ada air menguap, menjadi awan, lalu turun sebagai hujan. Kadang langit tenang, kadang disertai petir, kadang ada pelangi. Namun semua itu hanyalah proses alami, bukan sesuatu yang perlu dihakimi. Dan, semua fenomena di langit akan berubah dan berlalu sebagaimana cuaca saja.
Emosi pun demikian. Kadang hadir sebagai amarah, kadang sebagai kesedihan, kadang sebagai kebahagiaan. Semua adalah bagian dari langit batinmu yang terus berubah. Maka jangan buru-buru menilai. Amati, rasakan, dan sadari.
Namun ingat, ketika emosi itu diwujudkan menjadi tindakan yang mencelakai orang lain, itu bukan lagi sekadar emosi, itu sudah masuk wilayah tanggung jawab.
Kesadaran bukan menolak emosi, tetapi memahami dan mengarahkannya dengan bijak.




Restu Abah