Bangun pagi, kamu rasakan napasmu masih di sana bukan? mengalir ke tubuhmu. Lalu kamu minum air, dan tubuhmu kembali hidup.
Sesederhana itu kehidupan bekerja. Udara dan air, mereka diam, tanpa banyak suara, namun menopang seluruh keberadaanmu.
Pertanyaannya, ketika kamu terbangun pagi hari, mengapa kamu lebih sibuk terlibat dengan pikiran dan emosi? Mengapa kamu tidak melibatkan dirimu pada bahan baku kehidupan?
Kamu habiskan energi untuk memikirkan orang lain, memikirkan penilaian, terseret oleh perasaan yang naik turun. Padahal semua itu tidak benar-benar memberimu kehidupan.
Yang membuatmu hidup adalah napas yang masuk dan keluar. Air yang kamu minum. Makanan yang kamu terima. Bahkan, pada bumi yang sedang kamu injak. Itulah bahan baku kehidupan yang nyata.
Cobalah terlibat penuh dengan mereka.
Rasakan napasmu dengan sadar. Minumlah air dengan penuh kehadiran. Makanlah dengan penghargaan. Melangkah-lah dengan hormat kepada bumi. Syukuri setiap hal sederhana yang menopang hidupmu.
Orang-orang di luar sana, dan pikiran serta emosi di dalam diri, memang bisa membentuk siapa dirimu di mata dunia. Namun mereka tidak pernah bisa mengembalikanmu pada kehidupan yang murni.
Jika kamu ingin kembali hidup dengan utuh, kembalilah pada yang memberi hidup itu sendiri.
Saat kamu terlibat penuh pada esensi dasar hidup, kamu menghargai dan mensyukurinya, maka sebuah kualitas akan lahir.. Kehidupanmu akan terasa bebas, lega, dan penuh makna.



