Khidir pernah menunjukkan tiga peristiwa yang mengguncang cara pandang manusia: merusak perahu, membunuh seorang anak, dan menegakkan tembok bagi penduduk yang tampak tidak layak dibantu.
Jika dilihat dengan logika biasa, semua itu tampak salah, tidak baik, bahkan tidak pantas. Di sinilah dualitas bekerja, pikiran langsung membagi realitas menjadi benar atau salah, baik atau buruk.
Musa mewakili cara pandang itu. Ia berdiri dalam hukum, dalam kepastian, dalam batas yang jelas. Dan itu tidak salah. Namun ada lapisan lain dari kehidupan yang tidak bisa dijangkau oleh cara pandang yang hanya hitam dan putih.
Khidir mengajak masuk ke ruang yang lebih dalam, melampaui penilaian. Di ruang ini, dua hal perlu kamu lakukan: tidak menilai, dan tidak menghakimi.
Bukan berarti kamu menjadi pasif atau tidak peduli, tetapi kamu belajar untuk menyaksikan tanpa terburu-buru memberi label. Karena realitas tidak selalu seperti yang dipahami pikiran.
Ketika kamu diam sebagai saksi, perlahan kamu akan melihat bahwa di balik apa yang tampak salah, bisa tersembunyi hikmah & kebaikan yang tidak terlihat. Dan di situlah pemahaman sejati muncul. Bukan dari penilaian, tetapi dari kesadaran yang jernih.
Puji Khidir…



