Yang salah itu orang lain, atau caramu menerima keadaan? Yang salah itu kondisi, atau reaksimu dalam menghadapinya?
Sering kali kita terburu-buru menunjuk keluar. Menyalahkan orang, menyalahkan situasi, menyalahkan hidup yang terasa tidak sesuai harapan. Namun jarang kita berhenti untuk melihat ke dalam, bagaimana cara kita memandang dan merespons semua itu.
Peristiwa di luar tidak selalu bisa kamu kendalikan. Orang lain bisa bersikap di luar kehendakmu. Keadaan bisa berubah tanpa izinmu.
Namun satu hal selalu ada dalam jangkauanmu, yaitu cara kamu melihat dan merespons. Di sinilah letak kebebasan itu.
Ketika kamu menggantungkan bahagia pada kondisi luar, hidupmu akan terus naik turun mengikuti keadaan. Hari ini senang, besok kecewa. Hari ini tenang, besok gelisah.
Namun ketika kamu mulai menyadari bahwa bahagia tidak bergantung pada hal di luar, sesuatu berubah.
Bahagia bukan hasil dari dunia yang sempurna. Ia lahir dari cara pandang yang jernih. Ia tumbuh dari dalam, secara independen, tidak menunggu keadaan ideal untuk hadir. Kalau dia tidak independen, mungkin itu kesenangan, bukan kebahagiaan. Kesenangan butuh trigger. Bahagia tidak.
Jangan terlalu sibuk memperbaiki dunia di luar. Mulailah dengan melihat ke dalam. Karena di sanalah sumber kebahagiaan itu berada. Selalu ada, dia hanya menunggu untuk disadari.



