Anak Kecil Bertengkar, Kembali Bermain. Orang Dewasa Bertengkar, Seterusnya Membenci

Perhatikan anak-anak kecil, Ananda, mereka bisa bertengkar, menangis, bahkan saling mendorong. Namun tidak lama kemudian, mereka kembali bermain bersama, tertawa seolah tidak pernah terjadi apa-apa.

Mengapa demikian?
Karena anak-anak belum menyimpan “aku” yang kuat. Mereka tidak mengumpulkan luka, tidak membangun cerita, dan tidak membawa kejadian itu ke masa depan. Emosi datang, dialami, lalu selesai.

Berbeda dengan orang dewasa. Sekali tersinggung, ia menyimpannya. Lalu pikiran mulai bekerja, mengulang kejadian, memberi makna, memperkuat rasa sakit. Dari situlah lahir dendam yang bisa bertahan bertahun-tahun.

Masalahnya bukan pada peristiwanya, tetapi pada keterikatan terhadap cerita. Orang dewasa tidak benar-benar marah pada kejadian, tetapi pada makna yang ia ciptakan sendiri di dalam pikirannya.

Ananda, coba belajar dari anak-anak. Rasakan emosimu sepenuhnya, tetapi jangan menyimpannya. Biarkan ia datang dan pergi seperti awan. Jangan diolah dan dibentuk menjadi identitas.

Apakah kamu rindu kembali menjadi seperti anak kecil? Yang polos dan tidak gemar menyimpan emosi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *